Sekolah Menengah Kejuruan hingga saat ini cenderung lebih banyak yang belum menemukan jatidirinya sebagai lembaga pendidikan yang mencetak tenaga kerja menengah yang siap mandiri dan bersaing di dunia kerja. Berdasarkan data pokok pendidikan (Dapodik), jumlah total SMK saat ini sebanyak 14 ribu unit, 25% di antaranya SMK negeri dan selebihnya SMK swasta, sedangkan jumlah peserta didik sebanyak lebih dari 5 juta siswa, dengan 9 bidang keahlian, 49 program keahlian, dan 146 kompetensi keahlian. Angka-angka tersebut selain merupakan indikator keberhasilan penyediaan akses pendidikan menengah, sekaligus mencerminkan besarnya tantangan bagi pemerintah untuk memastikan penyediaan pendidikan yang berkualitas sesuai dengan standar nasional pendidikan.
Tantangan terbesar adalah banyaknya lulusan SMK yang menganggur. Badan Pusat Statistik ( BPS) mencatat jumlah pengangguran terbuka pada Agustus 2019 berjumlah 7,05 juta orang, meningkat dari Agustus 2018 yang hanya 7 juta orang. dan tingkat pengangguran terbuka (TPT) didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 10,42 persen pada Agustus 2019.
Tingkat pengangguran tersebut tentu disebabkan beberapa faktor. Selain kemampuan skill lulusan SMK, juga dipengaruhi ketersediaan modal usaha untuk mandiri dan juga ketersediaan lapangan kerja yang siap menampung lulusan SMK. Diberbagai daerah diluar jawa, keberadaan industri sangat terbatas. Keterbatasan skill dipengaruhi oleh fasilitas sekolah dan kualitas pembelajaran di dalamnya. Secara sistem, kepemimpinan kepala sekolah dalam membawa lulusan yang berorientasi pasar dan memiliki landasan kewirausahaan yang kuat adalah hal yang sangat menentukan.
Pada kondisi inilah pentingnya mendekatkan wawasan kepala sekolah berbasis industri sebagaimana seorang chief executive officer sebuah perusahaan. Program CEO SMK kerjasama antara Dirjend Vokasi Kementerian Pendidikan dengan Universitas Prasetiya Mulya diharapkan menghasilkan kepala SMK yang memahami peluang, tantangan sekaligus solusi atas permasalahan yang dihadapi SMK selama ini melalui proyek pengembangan sekolah (PPS).
